Juara UMKM Smart Award 2018

SALATIGA – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Salatiga diminta tidak lagi menggunakan alasan permodalan, sebagai penghambat kegiatan usaha dan pengembangan bisnis yang dilaksanakan. Saat ini yang utama bagi UMKM, bukan sekadar permodalan melainkan kemampuan berkreatif dan berinovasi menciptakan produk yang siap jual, serta diminati masyarakat.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Salatiga, Wuri Pujiastuti, setelah pelaksanaan penjurian Lomba UMKM Smart Award Tingkat Kota Salatiga, kemarin. ”Segala kemudahan dan bantuan telah diberikan kepada UMKM, termasuk permodalan. Untuk itu tidak ada alasan lagi UMKM tidak dapat berkembang, termasuk karena keterbatasan permodalan,” kata Wuri.

Wuri mengungkapkan, hingga akhir 2018 Dinas Koperasi dan UKM telah mendata dan ada 1.569 UMKM di Kota Salatiga, yang telah mendapatkan pembinaan. Jumlah tersebut mengalami peningkatkan dibandingkan tahun sebelumnya (2017), sebanyak 1.329 UMKM. Selama ini UMKM mendapatkan bantuan permodalan dari Pemkot Salatiga yang dikelola Dinas Koperasi dan UKM dengan pinjaman di bawah Rp 50 juta.

Terkait dengan keberadaan UMKM saat ini, Wuri memberikan apresiasi tersendiri, karena banyak UMKM yang mampu bertahan dan bahkan berkembang dengan baik. Setidaknya ada 36 UMKM yang memberanikan diri tampil dan mengikuti Lomba UMKM Smart Award yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Kota Salatiga. Sebanyak 36 UMKM tersebut mampu membuktikan bahwa mereka selama ini dapat berkreasi dan berinovasi, menciptakan produk yang dibutuhkan masyarakat. ”Dari 42 UMKM peserta lomba, ada 36 UMKM yang mengembalikan formulir dan persyaratan administrasi pendaftaran,” terang Wuri.

Menurut Wuri, jenis UMKM tersebut di antaranya berupa kuliner, produksi makanan olahan, fashion, kerajinan, batik, dan lainnya. Adapun tujuan Lomba UMKM agar bisa diperingkat kualitas dan prestasi usaha yang telah dilaksanakan selama ini. Ada 7 variabel penilaian meliputi visi usaha yang dilaksanakan, kelembagaannya, kinerja, inovasi produk, pangsa pasar atau pemasaran yang sudah dilaksanakan selama ini, tenaga kerja, program kemitraan yang diikuti, pengembangan jaringan, dampak usahanya, dan lainnya.

Penilaian Fair

Proses penilaian telah dilaksanakan sejak digelar Salatiga Fair lalu. Tim juri dari berbagai lembaga di antaranya perwakilan perguruan tinggi, pembina UMKM, dan dari Pemprov Jateng. Kemudian tim melakukan survei dan penilaian ke masing-masing peserta lomba, dengan mendatangi langsung UMKM tersebut. Penilaian akhir berlangsung di Pemkot Salatiga. ”Penilaian berlangsung fair dan transparan, sehingga dihasilkan UMKM terbaik yang berhak meraih juara,” jelas Wuri.

Adapun juara 1 lomba tersebut diraih oleh Stasiun Edukasi (Dian Setya Wardani), juara 2 diraih Brilian Baru (Kristiani), juara 3 diraih Cenik Jegeg Art (Kikis Istianta), juara harapan 1 diraih Kedai Noona (Tan de Costa), juara harapan 2 diraih Naniq Bakery (Nanik), juara harapan 3 diraih Biancha Cole (Sri Rahayu), dan juara favorit diraih Rumah Djampee (Hengky Wibowo). Para juara berhak mendapat trofi dan uang pembinaan.

Sumber : Suara Merdeka